Nama ilmiah klanceng yang ada di kotakmu diberikan oleh seorang pria di London — dari seekor lebah mati, dalam sebuah laci museum, pada tahun 1857. Pria itu tidak pernah ke Indonesia. Lebahnya sudah kering. Tapi nama yang dia tulis bertahan sampai sekarang.

Apa Artinya Nama Ilmiah Klanceng?

Dua kata. Dua bahasa kuno. Keduanya deskriptif.

Tetragonula — dari bahasa Yunani dan Latin. Tetra = empat. Gon = sudut. -ula = kecil. Artinya: "si kecil bersudut empat" — merujuk pada sel sarang lebah ini yang berbentuk empat sisi. Ini yang membedakannya dari genus Trigona ("tiga sudut") — saudara jauhnya dari Amerika Selatan.

laeviceps — murni Latin. Laevis = halus, rata. Ceps = kepala. Artinya: "berkepala halus." Seseorang melihat kepala lebah ini di bawah mikroskop dan menuliskan apa yang dia lihat.

Nama ilmiah bukan kode acak. Itu catatan pengamatan dari ratusan tahun lalu.

Frederick Smith dan Lebah dari Laci Museum

Orang yang menulis nama itu adalah Frederick Smith — entomologis (ahli serangga) di British Museum, London. Spesialis Hymenoptera: lebah, tawon, semut. Dia tidak banyak turun ke lapangan. Pekerjaannya menerima spesimen dari seluruh dunia, memberi nama, menulis deskripsi, menyimpan di laci.

Spesimen klancengnya datang dari Alfred Russel Wallace — penjelajah dan naturalis yang, bersama Darwin, merumuskan teori seleksi alam. Wallace menjelajahi Kepulauan Melayu antara 1854 dan 1862. Dia mengumpulkan ratusan ribu spesimen dalam delapan tahun itu — kupu-kupu, burung, lebah, kumbang. Satu di antaranya, dari Singapura, berakhir di meja Frederick Smith.

Tahun 1857. Smith membuka bungkusan itu, melihat lebah kecil berkepala halus, dan menulis: Tetragonula laeviceps.

Singapura 1857 — Bukan Singapura yang Kamu Bayangkan

Singapura waktu itu bukan kota. Itu hutan.

Hutan tropis dataran rendah, lebat, basah — penuh pohon Dipterocarpaceae, pohon-pohon penghasil resin tinggi yang sampai sekarang jadi sumber propolis klanceng. Iklimnya identik dengan Jakarta: panas, lembap, hujan dua musim. Lebah yang Wallace tangkap hidup di lingkungan yang sangat mirip dengan yang ada di halaman rumahmu.

Hutan itu sekarang tinggal sepotong kecil di Bukit Timah. Lebahnya sudah lama pergi dari sana. Tapi dari satu spesimen yang bertahan di laci museum London, seluruh spesies itu masuk peta ilmu pengetahuan dunia.

Nama Sempat Berubah

Selama lebih dari 100 tahun, klanceng disebut Trigona laeviceps. Waktu itu Trigona cuma satu nama untuk semuanya — lebah tak bersengat dari Asia, Afrika, Amerika, semua masuk ke sana tanpa dibedakan.

Tahun 1961, entomologis Brasil bernama Moure memisahkan lebah tak bersengat Dunia Lama dari Dunia Baru. Lebah Asia dan Australia mendapat genus baru: Tetragonula. Nama spesiesnya tetap — laeviceps — tapi alamatnya berubah.

Ini yang terjadi di taksonomi: nama bisa berubah, bukan karena lebahnya berubah — tapi karena kita lebih paham.

Nama yang Bisa Langsung Dibaca

Banyak lebah Indonesia dinamai persis seperti laeviceps — dengan deskripsi fisik sederhana dalam bahasa Latin.

Tetragonula melanocephalamelanos (hitam) + kephalē (kepala). "Berkepala hitam." Kebalikan langsung dari laeviceps. Dinamai oleh Giovanni Gribodo — insinyur sipil Italia dari Turin yang juga entomologis amatir serius. Dia mendeskripsikan 377 spesies Hymenoptera baru di sela pekerjaannya membangun infrastruktur.

Tetragonula carbonariacarbonarius, "batu bara." Tubuhnya hitam pekat. Nama yang paling jujur: lihat lebahnya, tulis warnanya. Juga karya Frederick Smith, dari spesimen Australia.

Tetragonula atripesater (hitam pekat) + pes (kaki). "Berkaki hitam." Smith lagi, 1857, dari koleksi Wallace — laci yang sama, tahun yang sama.

Geniotrigona thoracicathorax = dada. Dinamai karena dadanya yang mencolok: keemasan, kontras tajam dengan kaki hitamnya. Orang Indonesia mengenalnya sebagai lebah klanceng keemasan. Smith mendeskripsikannya dari spesimen Wallace juga — Singapura, 1857.

Lepidotrigona terminataterminata = berbatas, bertepian. Merujuk pada pita keemasan di tepi ruas-ruas perutnya. Nama umum dalam bahasa Inggris: "Gold-margined Stingless Bee." Nama ilmiahnya bilang hal yang sama, hanya dalam Latin.

Tetragonula clypearisclypeus, "perisai." Di anatomi serangga, clypeus adalah lempengan keras di depan kepala — tepat di antara pangkal antena dan mulut. Lebah ini punya clypeus yang mencolok. Dinamai oleh Heinrich Friese — orang yang sama yang memberi nama biroi — dari spesimen ekspedisi sains Belanda ke New Guinea, 1908. Friese mendeskripsikan hampir 2.000 spesies baru dalam hidupnya. Clypearis adalah salah satunya. Sekarang ada di Maluku, Papua, dan Sulawesi.

Dari Budapest ke Papua

Tidak semua nama deskriptif. Sebagian menghormati orang.

Tetragonula biroi mengabadikan nama Lajos Bíró — naturalis Hungaria yang menghabiskan enam tahun (1896–1902) di Papua Nugini saat wilayah itu masih di bawah Jerman. Bíró mengumpulkan hampir 200.000 spesimen — sekitar 2.400 di antaranya spesies baru. Koleksinya dikirim ke Museum Nasional Hungaria di Budapest.

Heinrich Friese, entomologis Jerman, menerima spesimen lebah tak bersengat dari koleksi Bíró dan memberi nama: biroi. Akhiran -i adalah genitif Latin — "milik Bíró," atau lebih tepatnya, "lebah Bíró."

Spesiesnya sekarang ada di Papua Indonesia.

Sapiens

Tetragonula sapiens — "yang bijak," atau "yang tahu." Nama yang sama dengan Homo sapiens.

Dinamai oleh Theodore Cockerell pada tahun 1911, dari Colorado. Mengapa "bijak"? Tidak ada catatan alasan. Mungkin sarang yang ditemukannya terlihat sangat terorganisir. Mungkin dia hanya menyukainya.

Tidak setiap nama ilmiah punya cerita besar. Kadang seseorang tinggal memilih kata.

Cockerell muncul dua kali. Tujuh tahun setelah sapiens, dia mendeskripsikan satu lagi dari Singapura: Trigona itama, 1918. Tapi kali ini tidak ada penjelasan nama.

Itama bisa dari kata Melayu itam — ejaan lama untuk "hitam." Bisa nama sungai. Bisa nama lokal yang dicatat di lapangan. Tidak ada yang tahu pasti. Cockerell tidak menulis kenapa.

Yang menarik: lebah ini sekarang berdiri dalam genusnya sendiri — Heterotrigona. Satu-satunya anggotanya. Cukup berbeda dari semua klanceng lain untuk dipisahkan sendirian. Hetero = "berbeda." Nama genusnya jelas. Nama spesiesnya tetap misterius.

Satu-satunya yang Bernama Suku

Di antara semua lebah tak bersengat Indonesia, ada satu yang namanya berasal dari manusia yang hidup, bukan dari orang Eropa yang sudah meninggal.

Tetragonula minangkabau — namanya langsung dari suku Minangkabau, masyarakat matrilineal di Sumatra Barat.

Penemu dan penamai spesies ini adalah Shoichi F. Sakagami — entomologis Jepang yang mendominasi penelitian lebah tak bersengat Asia Tenggara dari tahun 1970-an hingga kematiannya tahun 1990 — bersama kolaboratornya Hiroshi Inoue, tahun 1985.

Mereka menemukan bahwa apa yang selama ini disebut T. laeviceps di Sumatra Barat ternyata spesies yang berbeda. Lebih kecil, warna sedikit lebih terang, terbatas di tanah Minangkabau. Sakagami memberi nama tempat penemuannya secara langsung.

Ada lagi: T. minangkabau forma darekdarek adalah nama untuk wilayah pedalaman dataran tinggi Minangkabau. Dua nama geografis dalam satu spesies; dua tingkat kedalaman peta yang sama.

Ini satu-satunya lebah tak bersengat Indonesia yang namanya berasal dari suku bangsa lokal.

Wallace Muncul Dua Kali

Wallace mengumpulkan spesimen untuk Smith di Singapura tahun 1857. Tapi Wallace juga meninggalkan jejak lain di taksonomi Indonesia.

Engel & Rasmussen, dua entomologis modern, menciptakan genus baru pada 2017: Wallacetrigona — "Trigona-nya Wallace." Satu spesies. Endemik Sulawesi. Tidak ditemukan di mana pun di dunia selain itu.

Nama genusnya menghormati Wallace bukan hanya karena dia mengumpulkan spesimen. Tapi karena lebah ini hidup di Wallacea — zona biogeografi yang memang sudah diberi nama Wallace sejak lama. Wilayah di antara garis khayal yang memisahkan fauna Asia dari Australia. Garis yang Wallace sendiri yang pertama kali gambar.

Jadi: nama lebahnya merujuk ke nama wilayahnya, yang merujuk ke nama orangnya. Wallace tiga kali, dalam satu spesies.

Nama spesiesnya sendiri — incisa — dari Latin incisus: "terukir," "terpotong." Merujuk pada lekukan kecil di bagian mulutnya. Deskripsi morfologi biasa. Tapi genusnya bukan biasa.

Schwarz di New York

Frederick Smith bekerja dari London. Tapi ada versi lain dari cara yang sama — Herbert Ferlando Schwarz, entomologis di American Museum of Natural History (AMNH) di New York.

Tetragonula sarawakensis masuk ke mejanya dari sebuah ekspedisi besar: Ekspedisi Universitas Oxford ke Borneo, 1932. Spesimennya bukan dari tepi pantai — dari hutan lumut di puncak Gunung Dulit, Sarawak, ketinggian 1.200 meter, Oktober 1932. Dari kabut di puncak gunung itu, dikirim ke New York. Schwarz menulis: sarawakensis — "dari Sarawak." 1937.

Tetragonula drescheri datang dua tahun kemudian — dan ini satu-satunya dalam artikel ini yang tipe spesimennya dari Jawa. Dari tanah Indonesia sendiri. Schwarz menamai lebah itu untuk Rudolf Drescher (1869–1935), entomologis yang aktif di Asia Tenggara. Drescher sudah meninggal empat tahun sebelum namanya tertulis. Schwarz memberi nama itu tanpa sepengetahuannya — menghormati seseorang yang tidak sempat melihatnya diabadikan.

Pagden — dan Nama yang Belum Selesai

H.F. Pagden adalah entomologis Inggris yang bekerja untuk Departemen Pertanian Malaya di tahun 1930-an dan 40-an. Kerja lapangan serius, di era sebelum DNA, sebelum barcoding genetik — hanya mata, pinset, dan kaca pembesar. Dia mengumpulkan dan mendokumentasikan lebah tak bersengat di semenanjung Malaya.

Nama Pagden diabadikan dalam nama spesies T. pagdeni — sebagai penghormatan. Bukan oleh Pagden sendiri. Dalam taksonomi, tidak ada yang boleh memakai namanya sendiri untuk spesies yang dia temukan. Orang lain yang melakukannya.

Lebah ini hidup di Thailand, Myanmar, dan sekitarnya — hutan tropis yang serupa: panas, lembap, tanaman berbunga sepanjang tahun. Cukup mirip kondisi Indonesia — makanya datanya bisa kita pakai.

Yang menarik: lebah dalam artikel sebelumnya — yang datanya kita pakai untuk waktu perkembangan klanceng — bukan T. pagdeni secara resmi. Itu T. nr. pagdeni. "Nr." singkatan dari near — dekat, mirip, tapi belum terkonfirmasi sama. Spesimen dari Asia Selatan itu tampak seperti pagdeni, tapi apakah benar-benar pagdeni? Belum ada yang membuktikan secara formal.

Di laci museum entah di mana, mungkin ada spesimen kering yang sedang menunggu seseorang untuk membukanya dan menulis nama yang tepat.

Persis seperti yang dilakukan Frederick Smith pada tahun 1857.


Langkah selanjutnya:Lebah Putih di Koloni Klanceng: Artinya Apa? — artikel yang memunculkan pertanyaan tentang T. nr. pagdeni ini → Mengenal Lebah Klanceng Indonesia — dari nama ilmiah ke lebah yang hidup di kotamu