Indonesia adalah salah satu pusat keanekaragaman lebah tropis di dunia — termasuk klanceng. Dan keanekaragaman itu sedang menyusut.

Lebih dari 40 spesies lebah tak bersengat tercatat di Indonesia. Bandingkan: seluruh Eropa tidak punya satu spesies pun — stingless bee adalah hewan tropis, dan Indonesia adalah salah satu tempat di mana mereka masih ada dalam jumlah besar. Bukan sekadar tempat yang kebetulan kaya spesies. Salah satu tempat terakhir di mana kekayaan itu masih ada.

Tapi kondisi yang membuatnya bisa ada — hutan, pohon tua berlubang, tanaman berbunga sepanjang tahun — sedang berkurang lebih cepat dari yang bisa digantikan.


Indonesia: Pusat yang Sedang Tergerus

Lebah tak bersengat hidup di rongga kayu, celah batu, bambu, kadang di dalam dinding rumah tua. Satu koloni bisa bertahan bertahun-tahun di tempat yang sama — tapi hanya kalau tempatnya tidak terganggu.

Ketika pohon tua ditebang untuk perluasan kota, koloni yang tinggal di dalamnya hilang. Ketika rumah tua direnovasi dan dindingnya dibongkar, koloni yang hidup di sana tidak punya tempat lain. Tidak seperti burung yang bisa terbang jauh mencari pohon baru, koloni stingless bee yang ratunya sudah physogastric (perutnya membesar penuh telur setelah kawin — sudah tidak bisa keluar dari pintu masuk) tidak bisa sekadar "pindah."

Di satu survei di Riau, peneliti menemukan 90 koloni stingless bee alami — 95,6% di antaranya adalah spesies besar (H. itama, lebah tak bersengat yang ukurannya jauh lebih besar dari klanceng). T. laeviceps, spesies yang paling tangguh, hanya 3 koloni dari 90. Bukan angka kepunahan — tapi gambaran betapa tipisnya kepadatan koloni liar bahkan di daerah yang masih hijau.


Ancaman Terbesar untuk Klanceng Perkotaan

Untuk koloni yang tinggal di lingkungan perkotaan, ancaman terbesarnya bukan deforestasi. Itu jauh.

Ancaman terbesarnya adalah fogging.

Setiap kali petugas kelurahan atau warga menyemprot asap untuk mengusir nyamuk, insektisida piretroid (racun serangga yang dipakai di sebagian besar fogging nyamuk) menyebar ke radius ratusan meter. Forager yang sedang terbang pada saat itu mati di tempat. Forager yang kembali ke kotak membawa residu yang masuk ke rantai pakan di dalam sarang. Koloni yang terpapar berulang tidak langsung mati — mereka melemah perlahan, produksi brood turun, populasi menyusut, sampai koloni tidak bisa pulih lagi.

Di Jakarta, fogging bisa terjadi kapan saja — kadang tanpa pemberitahuan. Satu fogging malam bisa menghabiskan sepertiga forager aktif kolonimu dalam beberapa jam.

Selain fogging: pestisida dari tanaman hias dan kebun yang disemprot rutin, monokultur tanaman perkotaan yang mekar serentak lalu sepi berbulan-bulan, pohon-pohon yang dipangkas habis sebelum sempat berbunga. Semua itu menggerus ketersediaan pakan dalam jangkauan terbang forager.


Yang Tidak Ada yang Hitung

Di Eropa dan Amerika Serikat, penurunan populasi lebah sudah dipantau sistematis sejak 1990-an. Ada angka tahunan. Ada laporan pemerintah. Ada database kematian koloni per musim.

Di Indonesia, hampir tidak ada.

Tidak ada sistem pemantauan nasional untuk populasi lebah liar. Tidak ada angka berapa koloni stingless bee yang hilang per tahun. Tidak ada peta distribusi yang diperbarui. Yang ada adalah studi-studi lokal dari beberapa universitas — Riau, Jawa Timur, Sumatera Utara — yang masing-masing hanya menangkap satu sudut dari masalah yang jauh lebih luas.

Secara global, panel ilmiah PBB untuk keanekaragaman hayati (IPBES) memperkirakan 40% spesies penyerbuk serangga menghadapi ancaman kepunahan. FAO mencatat bahwa 71 dari 100 tanaman pangan utama dunia tergantung pada penyerbukan lebah. Indonesia adalah salah satu produsen buah tropis terbesar di dunia — durian, rambutan, manggis, kelengkeng — semua tergantung pada penyerbuk.

Kita tidak tahu seberapa parah kondisinya di sini. Itu sendiri sudah jadi masalah.


Klanceng di Kota: Titik yang Masih Menyala

T. laeviceps adalah spesies yang paling bisa bertahan di kondisi yang sudah berubah ini. Bersarang di kotak kayu kecil, di dinding, di pot. Foraging di radius 200–500 meter — cukup untuk memanfaatkan tanaman bunga di gang-gang Jakarta. Tahan terhadap kondisi pakan yang tidak menentu. Spesies lain sudah kesulitan; T. laeviceps masih bisa.

Setiap koloni yang dijaga di perkotaan adalah satu titik jaringan penyerbukan yang masih aktif di ekosistem yang sudah terfragmentasi. Bukan solusi untuk keseluruhan krisis — satu kotak tidak mengubah pola deforestasi, tidak menghentikan fogging kelurahan. Tapi tetap ada artinya.

Yang lebih penting dari skala: setiap peternak yang belajar membaca koloninya — yang tahu kapan fogging terjadi, yang tahu bedanya koloni sehat dan koloni yang melemah — adalah satu orang yang peduli terhadap sesuatu yang hampir tidak ada yang perhatikan.

Di negara tanpa sistem pemantauan nasional, perhatian itu bukan hal kecil.


Langkah selanjutnya:Klanceng bukan cuma soal madu — ini soal makanan yang kamu makan — peran konkret klanceng dalam sistem pangan di sekitarmu → Kamu mengambil madu klanceng mereka. Apakah itu adil? — tentang hubungan antara peternak dan koloni yang sedang bertahan ini